
Hal ini awalnya penting untuk menentukan apakah tulang pulih berasal dari manusia atau hewan. Sedangkan jawaban atas pertanyaan mungkin jelas ketika set sisa-sisa skeletonised yang hadir lengkap, banyak keahlian lebih diperlukan ketika hanya beberapa atau bahkan satu tulang ditemukan. Bentuk umum, ukuran dan struktur tulang mungkin cukup untuk menentukan spesies, dan metoda untuk membedakan antara sisa-sisa manusia dan non manusia juga telah didirikan berdasarkan mukroskopis struktur tulang. Jika tulang yang relatif baru, mungkin mengandung protein yang dibutuhkan untuk melaksanakan tes serologi guna membangun spesies,
Membedakan tulang manusia dan tulang hewan merupakan tugas dokter karena pihak kepolisian dan masyarakat biasanya sering acuh sehingga pernah terjadi kekeliruan dengan tulang binatang, terutama dengan tulang anjing, babi dan kambing. Pengetahuan mengenai anatomi manusia, berperan penting untuk membedakannya. Jika tulang yang dikirim utuh atau terdapat tulang skeletal akan sangat mudah untuk membedakannya tetapi akan menjadi sangat sulit bila hanya fragmen kecil yang dikirim tanpa adanya penampakan yang khas. Kesalahan penafsiran dapat tiombul bila hanya sep[otong tulang saja, dalam hal ini perlu dilakukan pemeriksaan serologik (reaksi presipitin) dan histologik(jumlah dan diameter kanal-kanal havers).
TES PRESIPITIN
Tes Presipitin yang dikonduksi dengan serum anti human dan ekstrak dari fragmen juga dapat digunakan untuk mengetahui apakah tulang tersebut tulang manusia. Tulang manusia dan binatang juga dapat dibedakan melalui analisis kimia debu tulang.
Tes Presipitin merupakan uji spesifik untuk menentukan spesies dengan cara terlebih dahulu harus dibuat serum anti manusia. Prinsip pemeriksaan adalah suatu reaksi antara antigen (bercak darah) dengan antibodi (antiserum) yang dapat merupakan reaksi presipitasi atau reaksi aglutinasi.
Cara Pemeriksaan
Antiserum diempatkan pada tabung kecil dan sebagian kecil ekstrak bercak darah ditempatkan secara hati-hati sebagian tepi antiserum. Biarkan pada temperatur ruangan kurang lebih 1,5 jam. Pemisahan antara antigen dan antibodi akan mulai berdifusi ke lapisan lain pada perbatasan kedua cairan.
Penentuan Jenis Kelamin
Menetapkan jenis kelamin sisa-sisa kerangka manusia umumnya tidak terlalu sulit, karena ada sejumlah perbedaan morfologi antara kerangka jantan dan betina. Jika sisa-sisa belum mencapai tahap terakhir dari dekomposisi, beberapa indikator seks mungkin masih ada di jaringan lembut. Misalnya, kelenjar prostat pada laki-laki dan rahim pada wanita tidak busuk sampai paling lambat jaringan lunak lainnya. Harus tulang menjadi yang tersiksa, mungkin indikator yang paling signifikan dari seks adalah panggul. Dalam betina, panggul menyajikan sub kemaluan lengkungan berbentuk U, sebagai menentang ke bentuk V yang ditemukan di panggul pria. Pada pria lengkung yang terbentuk oleh pinggir kranial ventral facies auricularis, kalau dapat dilanjutkan pada pinggir kranial dan ventra incisura ischiadica major. Pada wanita terbentuk dua lengkung terpisah. Di samping itu pada wanita terdapat lengkung pada bagian ventra tulang kemaluan, yang tidak kentara pada pria, pada wanita bagian subpubica dari ramus ischio-pubicus cekung, pada pria tulang ini cembung. Dilihat dari sisi ventral, pada wanita bagian yang sama agak tajam, pada pria lebih membulat.
Seperti yang diharapkan, panggul betina juga umumnya lebih luas untuk memungkinkan membesarkan anak, dengan sudut sub kemaluan lebih luas dan skiatik. Selanjutnya, pemeriksaan panggul perempuan bahkan dapat menunjukkan apakah dia sebelumnya telah melahirkan, menawarkan lebih detail untuk keperluan identifikasi.


Melalui pemeriksaan tengkorak juga dimungkinkan untuk menentukan kemungkinan jenis kelamin sisa-sisa dengan tengkorak, laki-laki cenderung untuk menampilkan yang lebih besar, rahang persegi dan lebih jelas, punggung supraorbital lebih menonjol (alis), dan mata lebih persegi panjang soket (orbit). Tengkorak pria lebih besar, lebih berat dan tulangnya lebih tebal. Seluruh relief tengkorak (benjolan, tonjolan, dsb) lebih jelas pada pria. Tulang dahi dipandang dari norma lateralis kelihatan lebih miring pada pria, pada wanita hampir tegak lurus, benjolan dahi (tubera frontalla)lebih kentara pada wanita, pada pria agak menghilang. Arci supercilliaris lebih kuat pada laki-laki sering hampir tidak kentara pada wanita. Pinggir lekuk mata (orbita) agak tajam/tipis pada wanita dan tumpul/tebal pada pria. Bentuk orbita pada pria lebih bersegi empat (menyerupai layar TV dengan sudut tumpul) pada wanita lebih oval membulat. Prossesus mastoideus besar dan takiknya (incisura mastoidea) lebih mendalam pada pria.
Sudut yang terbentuk oleh rasmus dan corpus mandibulae lebih kecil pada pria (mendekati 90 derajat). Benjol dagu (protuberia mentalis) lebih jelas/besar pada pria. Processus coronoideus lebih besar/panjang pada pria.
| Bagian yang Dinilai | Laki-laki | Perempuan |
|---|---|---|
| Ukuran tengkorak | Lebih besar, tebal, dan berat | Lebih kecil dan lebih halus |
| Dahi (os frontale) | Lebih miring / landai | Lebih tegak / vertikal |
| Tonjolan alis (supraorbital ridge) | Menonjol jelas | Halus / kurang menonjol |
| Orbita mata | Lebih persegi | Lebih bulat |
| Prosesus mastoideus | Besar dan menonjol | Kecil |
| Tulang pipi (zygomatic) | Lebih tebal dan kasar | Lebih halus |
| Mandibula (rahang bawah) | Besar, kuat, sudut rahang lebih tajam | Lebih kecil dan halus |
| Dagu (mental eminence) | Lebih lebar dan persegi (square chin) | Lebih runcing atau bulat |
| Sudut mandibula | Lebih kecil (≈90–110°) | Lebih besar (≈110–125°) |

Tulang panjang laki-laki lebih panjang dan lebih masif dibandingkan dengan tulang wanita dengan perbandingan 100:90.
Pada tulang-tulang femur, humerus dan ulna terdapat beberapa ciri khas yang menunjukkan jenis kelamin seperti ukuran kaput dan kondilus, sudut antara kaput femoris terdapat batangnya yang lebih kecil pada laki-laki, perforasi fosa olekrani menunjukkan jenis wanita, serta adanya belahan pada sigmoid notch pada laki-laki.
| Tulang | Ciri pada Pria | Ciri pada Wanita |
|---|---|---|
| Femur (tulang paha) | Lebih panjang, tebal, dan berat. Kepala femur lebih besar. Garis perlekatan otot (linea aspera) lebih kasar. Sudut leher femur relatif lebih kecil. | Lebih pendek dan ramping. Kepala femur lebih kecil. Permukaan lebih halus. Sudut leher femur relatif lebih besar. |
| Humerus (tulang lengan atas) | Diameter batang lebih besar dan tebal. Tonjolan otot (tuberositas) lebih kasar. Kepala humerus lebih besar. | Lebih kecil dan lebih ramping. Tonjolan otot lebih halus. Kepala humerus lebih kecil. |
| Ulna (tulang lengan bawah sisi kelingking) | Lebih panjang dan lebih kuat. Olecranon lebih besar dan menonjol. Batang tulang lebih tebal. | Lebih pendek dan lebih ramping. Olecranon lebih kecil. Batang tulang lebih tipis. |

Meskipun bukan berarti determinasi seks sempurna, ukuran umum tulang dapat memberikan beberapa indikasi apakah sisa-sisa milik laki-laki atau perempuan. Seperti otot-otot dalam laki-laki cenderung lebih besar dan berkembang baik, tulang umumnya lebih besar dan lebih kuat daripada wanita. Namun perlu dicatat bahwa mendirikan seks (jenis kelamin) didasarkan pada kerangka manusia sering menantang ketika berhadapan dengan sisa-sisa anak-anak pra puber, sebagai indikator tertentu seperti pelebaran pinggul pada wanita, mungkin tak terjadi sampai pubertas. Selain itu, seks alami seorang individu mungkin tidak konsisten dengan jenis kelamin individu (misalnya orang perempuan saat lahir dapat hidup sebagai laki-laki) yang menghambat proses identifikasi.
Tinggalkan Balasan